Saturday, September 10, 2011

Persaingan Kerja sudah sedemikiankah?

Menurut CEO perusahaan aku, cari kerja sekarang sulit. Di china saja, pelayan restoran rata - rata lulusan S1, sudah sedemikian ketatnya persaingan para pencari kerja. Itu menurut beliau, sehingga ujung2 nya beliau mengatakan :"cintailah pekerjaan kalian, jangan sedikit-sedikit berpikiran untuk resign dan mencari pekerjaan di tempat lain, karena tak selamanya rumput tetangga jauh lebih hijau.

Dan menurut beliau juga, di Amerika banyak orang-orang yang dia temui di jalan sedang menggunakan headset dan mulutnya mengoceh atau komat kamit, ternyata setelah diselidiki mereka itu sedang belajar bahasa melayu dan mandarin melalui headset itu. Hmm...mereka belajar bahasa itu dengan sasaran untuk mengeruk uang (bekerja) di belahan benua asia...ya salah satunya negara Indonesia. Woww...semakin ketat dong persaingan mencari lapangan kerja, sekarang saingan kita bule juga,,,wawww...

Sudah sedemikiannyakah?

Apa yang harus dilakukan oleh kita, yang mungkin sedang berjuang keluar masuk perusahaan menjalani proses interview demi mendapatkan satu pekerjaan?
Ternyata sudah bukan waktunya lagi untuk kita bersantai ria. Kita juga harus memperlengkapi diri kita dengan berbagai update kemampuan seperti bahasa, skill, ilmu pengetahuan yang mendukung pekerjaan yang kita tekuni. Karena di dunia kerjapun, segala sesuatunya mengalami perubahan, seperti contohnya program yang digunakan di perusahaan setiap tahunnya melakukan peng upgrade an sehingga kita sebagai user harus juga mengikuti perubahan tersebut dan memanage cara berpikir kita,

Terkadang perubahan yang terjadi di perusahaan tempat kita bekerja menyebabkan kita tidak nyaman, tidak nyaman karena belum terbiasa dengan perubahan yang terjadi, alhasil ujung-ujungnya mengeluh dan demotivasi.

Kalo sudah begini, yang ada dipikiran pasti resign.

Ketika pikiran untuk resign hanya karena belum nyaman dengan perubahan itu datang, berpikirlah kembali kepada motivasi kita bekerja. Dan berpikiran bahwa perubahan yang sedang terjadi ini hanya masa transisi saja....besok-besok kita akan terlarut didalam perubahan tersebut.

Ngomong-ngomong mengenai persaingan ketat memasuki dunia kerja, saya jadi teringat 2 hari yang lalu saya mewawancarai satu orang calon pegawai di divisi saya, seorang cowok usia kurang lebih 28-30 thn an, lulusan S1. Untuk lowongan kerja yang ada di divisi saya sesungguhnya untuk lulusan SMA saja sudah cukup. Dia tidak berkeberatan untuk menerima lowongan kerja yang ada, yang harusnya hanya untuk lulusan SMA, dengan ijazah S1 nya .Cowok ini sudah menganggur dari agustus 2010...hmm hampir satu tahun yaa, dan ketika proses wawancara itu berlangsung, si cowok ini sepertinya terlalu gugup sehingga terbata-bata dalam menjawab pertanyaan2 kami. Ada satu keraguan sebenarnya untuk menerima dia di posisi yang kami perlukan. Proses wawancara kami gali sampai ke kehidupan keluarganya, ternyata dia 9 bersaudara, dan ayahnya hanyalah seorang supir truk pengangkut kayu. Dan asik-adiknya 4 orang masih di rumah -mengganggur-.

Satu kesimpulan yang saya ambil, cowok ini jelas butuh pekerjaan, butuh uang untuk kelangsungan hidupnya. Dan mengapa dia bisa menganggur selama 1 tahun padahal dia mengantongi ijazah S1? Kesimpulan saya adalah karakter selama wawancara yang terbata-bata, kurang berani dan lugu, yang menyebabkan kurang memberi keyakinan kepada si pewawancara, apakah dia sanggup menjalankan pekerjaan yang ditawarkan. Dan kesimpulan lain yang saya tarik dengan karakter dia selama wawancara berlangsung kemungkinan dia kurang percaya diri mungkin karena keadaan keluarganya.

Tapi ternyata manusia memang dilengkapi 2 hal oleh yang kuasa yaitu LOGIKA dan PERASAAN. Ketika kami meng iya kan cowok tersebut untuk memasuki posisi yang lowong di divisi kami kurang lebih 60% perasaan kami bicara, bahwa dia butuh kerja untuk mendapatkan uang dan untuk mendapatkan eksistensinya sebagai manusia lulusan S1 yang berguna, bukan hanya menjadi benalu di dalam keluarga.

Semoga pengambilan keputusan yang dicampuri dengan perasaan kasihan ini tidak salah sepenuhnya, dan dengan pola pikir seorang S1 dia dapat berkontribusi dalam pekerjaannya dan karakter yang selama ini menjadi seseorang yang kurang percaya diri, dapat sedikit demi sedikit berkurang.

Benang merah dari postingan saya kali ini adalah, di era sekarang ini ijazah S1 saja tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang kita sukai, kita perlu menampilkan performa yang baik, harus pinter berkomunikasi dan cintai pekerjaan yang kamu miliki...karena ternyata cari kerja itu ga gampang...

Satu lagi, walaupun kita sudah memiliki pekerjaan, jangan lupa terus upgrade kemampuan diri anda, cobalah sesekali ikut seminar tentang kewirausahaan, seminar tentang pengembangan diri untuk mencapai karier yang lebih baik, kursus bahasa...karena dengan demikian kita tidak akan menjadi katak dibawah tempurung, wawasan kita menjadi lebih luas, dan kita menjadi tahu dunia luar, sudah seberapa sih posisi karier kita dibanding dengan teman-teman lainnya di luar sana...itu juga dapat memacu adrenalin kerja kita, menjadi pengen naik naik, dan naik,,,sehingga pekerjaan tidak hanya rutinitas tapi seperti kompetisi yang tidak mengijinkan kita untuk stop..tapi terus menggali -menggai-menggali kemampuan diri.


Ayooo teman-teman semangat...

:)

2 comments:

Arman said...

sekarang emang nyari kerja susah ya...

dan bener banget kata lu. karena persaingan semakin ketat, kita harus lebih outstanding. kalo cuma ngandelin S1 sih udah sejuta umat pada punya ya. jadi emang harus ditunjang dengan percaya diri dan attitude yang baik.

l i t a said...

Situasi campur aduk antara logika dan rasa kasihan itu sering sekali dateng ke aku juga, Maya.
Resiko sebagai HR, pastinya ketemu banyak calon pekerja dengan cerita hidup mengharu biru, seperti pelamar yang kamu ceritain itu.
Kadang ikut sedih, dan ingin sekali langsung masukin orang itu kerja, tanpa ba bi bu, but still... harus tetap rasional juga, karena yang gaji bukan kita. Apalagi kalau ternyata ada kandidat yang lebih cakap... hadeeehhh,sedih banget kebayang muka tuh orang.
*berkaca-kaca*