Wednesday, July 22, 2009

Penghuni Surga

Remote control TV di klik ke Metro TV headline news nya masih seputar pasca peledakan BOM di Ritz Carlton dan JW Marriot, channel TV dialihkan ke TV NEWS lainnya ternyata sama juga, hampir seharian bolak balik penayangan CCTV hotel Ritz Carlton tidak henti henti selalu ditayangkan ulang. Malahan sampai hapal setiap action action yang dilakukan oleh tersangka peledakan bom tsb, seorang pria menggunakan topi ,menyeret tas koper beroda dengan santainya melenggang memasuki gerbang pemeriksaan dengan alat detector. Masuk ke ruangan receptionist. check in dan menghuni kamar 1808.

Kedua Tv ini yang notabene mengklaim dirinya sebagai televisi yang concern menyiarkan hal-hal yang sarat dengan NEWS, memiliki perbedaan dalam cara dan teknis penayangan.

Jika saya bandingkan antara kedua TV ini dalam hal penayangan pasca pemboman Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, ada rasa yang berbeda.

Dari segi ke up2date penayangan video video hasil rekaman CCTV Metro TV jauh lebih banyak gambar yang ditayangkan dan lebih cepat dalam penayangan, jika kalian menyaksikan dengan seksama, gambar koper yang dipenuhi baut di kamar 1808 itu sungguh menakjubkan, menurut saya itu kelebihan Metro TV dari TV NEWS lainnya.

Rangkaian bom itu dikemas di dalam koper hitam. Koper itu sudah diisi bahan peledak seberat 3,5 kilogram. Detonatornya dirangkai dengan batere yang disimpan di kotak plastik kecil. Selain itu, puluhan baut besi disusun rapi di tiap sisi koper guna menambah daya rusak jikalau meledak.




Dan dari narasumber yang dihadirkan, Metro TV lebih mencengangkan dapat menghadirkan seorang mantan inteligen BIN, pakar terorisme yang dapat memberikan suatu analisa tentang peledakan BOM yang baru saja terjadi, dan dari sini saya sedikit tahu mengenai langkah langkah dan sepak terjang para terorisme. Dan wawancara antara anchor dengan narasumber di Metro TV jauh lebih santun dan tenang, sehingga penjelasan penjelasan yang disampaikan narasumber dapat pemirsa dengar dengan jelas, tanpa adanya tubrukan suara dari anchor yang berniat memotong pembicaraan dari narasumber.

Di TV News satu lagi, kadang telinga saya menjadi hilang fungsi pendengarannya, dikarenakan sang anchor seringkali memotong pembicaraan narasumber sehingga suara mereka bertabrakan dan akhirnya informasi yang diterima pemirsa menjadi bias. Mungkin akan lebih santun, kalo anchor tidak bersifat menyerang atau terburu buru menyampaikan pertanyaan terhadap narasumber.

Tak bisa dipungkiri, PENGEBOMAN kembali JW Marriot dan Ritz Carlton menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia dan mungkin dunia, media massa cetak dan elektronik berlomba menampilkan berita terupdate dengan gambar dan video pendukung yang dapat memenuhi rasa penasaran pemirsa.

Pemboman ini seharusnya tidak perlu terjadi lagi di Tanah Airku, Terkutuk setiap perbuatan pengeboman ini dengan dalih membela agama atau nasionalisme sekalipun.
Lihatlah!!! keluarga korban yang airmatanya terkuras melihat saudaranya terbaring kaku dengan wajah yang bentuknya sudah hampir tak dikenali, bagaimana sang korban adalah tulang punggung keluarga, seorang ayah yang masih diperlukan oleh anak dan istrinya sebagai penopang hidup.

Sadarlah sang teroris apa yang kalian lakukan tidaklah dapat mencapai sasaran yang kalian kehendaki. Bukan dengan begini caranya, apabila kalian ada kekecewaan ataupun suatu keinginan yang tidak terpenuhi.

Dunia ini bukan hanya milik kalian!!!
Dan kalian sudah pasti TIDAK MEMILIKI HATI...
Maukah Tuhan menerima Orang yang TIDAK MEMILIKI HATI menempati SURGA-Nya ???


2 comments:

Enno said...

hmm

kadang emang ada anchor yang suka pengen kliatan pinter...

tapi jadinya malah rese dan bikin pemirsa pengen nyumpal mulutnya pake lap dapur

:P

Curly_t@uRus said...

@ ENNO : he eh bener,,lagi asik asik nyimak ehh mereka di studio belibetan ga karuan
trus kalo ada anchornya dua orang kok kayaknya malah pengen saling ngeduluin,emang mereka ga janjian janjian dulu sebelum camera on,,
jadi kayak di pasar kesannya brisikkkk,,,,
harusnya kan kalo patner gitu, tau dimana saatnya dia ngomong tau saatnya dimana partnernya ngomong, jadi kayak kerjasama gitu nampak kompak