Friday, September 12, 2008

Kenapa ada Iri HaTi??

Lihat orang lain Cantik, ah tapi idungnya pesek,,,itu komentar yang muncul
Ada orang kasih makanan hasil masakan dia sendiri, ah tapi ga enak.itu yang keluar comment dari bibir mungil...
Ada orang yang memang "selalu mau membantu" yang kesusahan, pasti ada maunya gitu desas desus diluaran...


aH,, mau berbuat baik itu susah. Bener susah?
Kenapa, selalu ada komentar "yang membuat telinga gatal" kalo ada orang
yang "lebih" dari kita...

Terkadang bertanya, kenapa Tuhan menciptakan hati dimana iri itu bernaung
Saya berpikir, coba hati itu ga ada pasti Iri juga tidak hidup.
Dan manusia bisa lebih ringan membawa dirinya, karena tidak membawa "si hati" yang walaupun berat netto nya ga seberapa tapi kok bisa terasa berat ya membawanya.

Itu dengan catatan kalo Hati kita sedang sakit

Terus terang sumber dari kehidupan adalah hati, seperti ada tertulis bahwa "dari hatilah sumber kehidupan" artinya hidup kita ditentukan oleh sikap hati kita.
Kalo hati kita sudah sakit, maka kita tidak akan pernah merasakan manisnya kehidupan, semua terasa pahit.


Ya seperti kalo kita sedang sakit deman, atau influenza, lidah terasa pahit, Makan apapun ga enak. Begitu juga dengan hati yang sakit,penyh rasa iri, pasti kita selalu memandang tidak ada yang lebih dari kita. Sehingga kita selalu diliputi rasa tidak tentram jika ada yang "lebih" dari kita.

Kalo rasa iri hati itu singgah di hati kita, terasa kita membawa beban berton-ton, dan yang paling terasa kita selalu negatif thinking ama orang lain, akibatnya kita ga bisa menjalanin pertemanan dengan orang lain.
Dan kalo kalian setuju, pasti kalian cape kan?


Seperti beberapa hari lalu, temen ex kantor ku pindah ke jakarta, disana dia kerja di tempat yang baru, dandia menceritakan bahwa di sana ada satu temennya yang sepertinya tidaksenang dengan dia, alasan jelasnya samapi saat ini belum di temukan. Temen saya bialng, mungkin temannya itu ngerasa senior di tempat kerjanya, sehingga kalo dikasih masukkan tidak terima, dan temanku ini sekarang mungkin lebih di dengar pendapatnya oleh si boz, jadilah teman kantor temanku ini mengadakan "perang dingin" dan mengancam akan resign. Temanku kaget denger ancaman dia, temanku ini ga enak juga kalo kehadirannya bisa bikin orang resign.

Kalo saya dengar ceritanya, satu yang saya tarik benang merahnya, dia itu iri hati,,,
Jadinya sampai saat ini dia ga pernah tegur sapa ama temenku, Saya saranin temenku untuk tetep nyapa dia, just hai,,,dan temenku sudah lakukan tapi temennya itu tetep cuek, Sampai temenku akhirnya bilang cape, dan kok serasa saya yang salah? "itu comment temenku"

Terkadang memang iri hati itu tidak kita undang. Tapi bila kita menanam iri hati dan memupuknya, maka iri hati itu akan menjalar seperti kanker di kehidupan kita. Banyak ruginya.

Mauanya ga iri hati? tapi kok suka ada aja bisikan dihembuskan di hati untuk iri ya

Itu suara si mahluk bertanduk

Ingat " hati yang gembira adalah obat, sperti obat hati yang senang"
kalo hati yang iri --> itu RACUN...

Kalo iri hati menerpa, ayo kita kembali ambil waktu seorang diri, bicara dengan diri sendiri, bilang saya tidak mau iri hati, belajar menerima bahwa kita ga mungkin sempurna, terima diri apa adanya dengan catatan terus tingkatkan kualitas diri.

Karena terus terang dengan iri hati, kita ga dapat apa, malahan muka kita nampak kusam dan hubungan sosialisasi kita akan memburuk.

Hidup lebih ringan kalo kita mengikis dan menaburi hati kita dengan racun pembasmi iri hati. Hidup berdampingan dengan yang lebih cantik, lebih baik, lebih ganteng, lebih pintar, fan lebih lebih lainnya dari kita akan membuat kita menjadi sosok yang terus terpacu untuk menjadi "lebih" yang positif,,,

No comments: