Sunday, October 11, 2009

diujung malam

"kenapa aku selalu kangen kamu ya", lelaki itu mencoba merayu, tapi sepertinya tidak merayu, dia mengungkapkan isi hatinya dengan tulus.

"dari semua teman dunia maya yang aku kenal, hanya kamu yang paling bikin aku kangen", lelaki itu masih melanjutkan perayuannya dengan harapan semoga perempuan yang sedang diajak berbicara menjadi yakin dan tidak menganggap ucapan sang lelaki hanya rayuan maut yang menghanyutkan.

"aku selalu membayangkan, aku duduk disampingmu, menatap wajahmu dan kita, ya kita, aku dan kamu bisa berbicara apa saja sepuasnya, semaunya...saling curhat"
"aku heran, kenapa aku bisa mempunyai khayalan seperti itu, tapi itu selalu hadir, saat aku merindukan dirimu"
"memang semuanya gila terasa..."

perempuan itu hanya terdiam.

diam.

lelaki itu memanggil perempuan yang disayanginya, "ren...ren..."

tetap diam.

sejurus hanya detak jarum jam yang menghiasi kebisuan malam itu.

"ren...haloooo...ren kenapa diem", lelaki itu berupaya memanggil nama perempuan pujaannya dan memastikan perempuannya masih diujung telepon sanakah? masih mendengarkan dia berbicarakah? atau terlelap dalam tidurnya?
"ren..."

hening.

sesengukkan terdengar, perempuan itu menahan tangisnya.
perempuan itu berupaya menahan suara tangisnya dengan menindihkan wajahnya ke atas bantal, dan berharap lelaki itu tidak mendengarnya.

" reeeenn...kamu nangis? kenapa?", lelaki itu mendengarnya dan bertanya dengan nada
khawatir.

lelaki itu sangat menyanyangi perempuan yang belum pernah dia lihat wujudnya. Bercengkrama dalam dunia maya, bercerita banyak hal setiap hari, mengandalkan emosi melalui suara tanpa melihat mimik wajah, itulah yang komunikasi yang terjadi hampir 365 hari antara lelaki dan perempuan itu.

Isak tangis itu semakin terdengar. bunyi sesenggukan dan suara yang tercekat kian terdengar. Suara ingus yang coba ditarik menimbulkan bunyi yang sangat kuat, dan tangis itu tidak bisa dibendung lagi, tak bisa ditahan lagi dan tak bisa disembunyikan lagi.
Daya kedap suara yang dimiliki bantal sudah tidak kuat lagi.

Wajah perempuan itu yang disembunyikan diatas bantal, untuk menyembunyikan tangisnya gagal sudah.

"reeenn...kamu nangis"

perempuan itu terus sesengukkan, dan sesekali dia berupaya untuk berbicara, tapi sulit, ucapannya terpatah patah, sulit untuk bernafas, karena begitu derasnya lendir menggumpal di hidung perempuan.

tercekat, baru sepatah kata, perempuan itu tercekat lagi...

"dip...ka--mu-- diselingi isakan tau--dari ---mu--lai...a--ku--- isakan lagi sd...am--pee sma---isakan lagi--be--be--rapa-- cowok---co--wok se--la--lu..tangisnya meledak lagi...terputus "

menangis lagi

lelaki itu diam diujung telepon sana.

"dip...ka--mu-- diselingi isakan tau--dari ---mu--lai...a--ku--- isakan lagi sd...am--pee sma---isakan lagi--be--be--rapa-- cowok---co--wok se--la--lu..tangisnya meledak lagi...menghina aku, karena ketidaksempurnaanku "

"kamu...ma--sih..sesengukkan ingatkan...aakuu pernah bi--laang-- sesengukkan lagi, seti--app aku ke--te--mu sesengukkan dan tarikan lendir di hidung cow--okk...ujungujungnya co--wookk itu ga ba--kal mau kenal aku lagi"

"jaa..di..dipdip jangan memikirkan aa--ku yang wahh kaa-rena kenyata--annya sesengukkan lagi ga begitu.."
"aakuu terharu saat kaa--mu-- bi--lang, kangen aku te--rus, selama i--ni a--ku ga pernah special bagi siaa--paapun"

perempuan itu, tidak mau membuat lelaki terus hidup dalam bayangan yang dia buat sangat indah. perempuan itu ingin lelaki bisa realistis.

lelaki itu terdiam.

"dip..kamu nangis? jangan nangis, masa cowok nangis?"

lelaki itu masih terdiam

Perempuan itu tidak kuasa mendengar isak tangis si lelaki.

"udah...jangan sedih, tidur yuk..", perempuan mencoba menetralkan keadaan

dan klik..sambungan telepon itu terputus.